Sunday, January 29, 2012

Maaf

Perkataan 'maaf' tu selalu diungkap waktu kita buat salah dengan orang lain. Dan fungsi perkataan itu juga adalah untuk memohon untuk orang lain memaafkan salah kita. Dari waktu sekolah lagi, teori yang diajar adalah, kalau kita buat salah, kita kena memohon maaf. Dan kesimpulan yang dapat dibuat adalah, kalau kita tak buat salah, kita tak perlulah minta maaf kan?

'Experience is the best teacher'. Rasanya semua orang pun pernah dengar benda ni. And daripada guru yang terbaik ini jugalah aku rasa teori yang aku belajar kat sekolah tu tak semestinya betul. Kadang-kadang dalam kita hidup ni, perkataan maaf tu tak semestinya kita perlu ungkap hanya diwaktu kita bersalah. Ada keadaan yang memerlukan kita untuk ungkap perkataan tu dalam keadaan yang kita totally innocent. Tak adil? Kalau nak ikut adil ke tak, mungkin ye lah. Tapi dalam keadaan yang tegang, perlukah kita still nak biar keadaan tu terus tegang kan? Bagus kalau kita ambil langkah untuk minta maaf. Tapiii later kita still kena betulkan keadaan.

Bila maaf diungkap dlaam keadaan yang kita tak bersalah jugak, bermaksud kita appreciate nilai relationship kita lebih dari ego kita. Memang kalau ikut ego, maka ikutlah kita teori yang kita blajar kat sekolah. Tapi kalau kita guna akal dan rasional lebih dari perasaan, maka tak valid lah teori tu. And yes, other than kita nak elakkan keadaan yang tegang berlanjut-lanjutan, kita ungkapkan maaf bila kita ketepikan ego kita untuk relationship yang kita sayang, appreciate and nilai dengan nilai yang tinggi.

Maaf bukanlah sekadar ungkapan yang pada dasarnya hanyalah berfungsi dan patut digunakan pada waktu kita bersalah pada seseorang. Tetapi ungkapan ni carries a very high value and maksud yang mendalam. Ada orang yang boleh 'cair' dengan ayat yang panjangnya hanyalah empat huruf ni. So, it is proven yang maaf is not only dat 'maaf'. Jadi ringan-ringakanlah mulut untuk minta maaf. Janganlah letakkan ego tu terlalu tinggi sampaikan kadang-kadang kita bersalah tapi still nak tegakkan benang yang basah. Berbaloi ke kita hilang satu relationship hanya disebabkan beratnya mulut untuk minta maaf? Jangan menyesal tak sudah, sudahlah.